Forum detikFood
- Cari gudeg enak di makass... 112990170
- Gw tinggal di Kebon jeruk... lovelett3r
- Menu Favorite di Bakerzin... Iced Chocolate
- Makan apa saja hari ini ?... F.F.F
- Tempat Makan Mie Ayam yg ... ceb0ngs
- Sarapan Pagi... naferyo
Berita Lain
- Jumat, 04/07/2008 15:45 WIB
Harum Legit Donut Peach
Indeks Berita
Link
Kamis, 15/05/2008 11:46 WIB
Serunya Makan Kol Nenek!
Devita Sari - detikFood

Jakarta - Di Jawa Tengah makanan ini dikenal sebagai 'kol nenek', lain halnya dengan di daerah Jawa Barat yang menyebutnya sebagai 'tutut monyong'. Meskipun penyebutannya berbeda, namun keduanya memiliki persamaan ketika menyantapnya. Hmm... kira-kira apa ya?
Ya, meskipun istilahnya beda namun kedua makanan ini nyaris mirip. Tentu saja karena keduanya sama-sama terbuat dari keong yang biasa ditemui di pematang sawah. Ukuran keong ini tidak begitu besar kira-kira seruas jari saja dan biasanya ditemui di restoran bermenu Jawa. Di RM Handayani, kol nenek disajikan mirip sup tetapi dengan kuah berwarna kehitaman. Rasanya agak gurih dengan irisan cabai merah yang besar-besar.
Lain lagi ketika saya berkunjung ke Bogor, tepatnya ke resto Imah Hejo milik vokalis Ungu, Pasha. Disana makanan ini disebut sebagai tutut monyong. Keongnya sendiri berwarna hijau bulat, bukan berbentuk luncip panjang seperti di RM Handayani. Disajikan mirip sup namun dengan kuah berwarna kekuningan yang gurih pedas karena diberi irisan cabe hijau besar.
Bagi yang belum pernah menyantapnya bisa-bisa kebingungan, gimana nih cara makannya? hehe... Nah, disinilah keunikan dan persamaan dari makanan berbahan dasar keong ini. Ya, persamaannya cuma satu, yaitu mulut harus dimonyongkan. Loh kok? Mulut yang dimonyongkan tersebut untuk menyedot keong agar daging menyembul keluar dari cangkangnya. Slurppp... hmm rasanya gurih dan enak meskipun tidak mengenyangkan. Makanya makanan ini sering disajikan sebagai menu pembuka.
Jika cara pertama tidak mempan, patahkan dulu sedikit ujung keong baru dihisap dan daging akan dengan mudah dimakan. Belum mempan juga? Tenang, masih ada cara terakhir yaitu dengan tusuk gigi untuk mencongkel dagingnya keluar hehe... Meskipun sukses, namun cara terakhir ini tidak cukup seru untuk menyantap kol nenek.
Nah, jika Anda menemukan makanan ini di buku menu jangan dihindari. Sesekali cobalah gurihnya si kol nenek ini! ( dev / Odi )
Serunya Makan Kol Nenek!
Devita Sari - detikFood

Ya, meskipun istilahnya beda namun kedua makanan ini nyaris mirip. Tentu saja karena keduanya sama-sama terbuat dari keong yang biasa ditemui di pematang sawah. Ukuran keong ini tidak begitu besar kira-kira seruas jari saja dan biasanya ditemui di restoran bermenu Jawa. Di RM Handayani, kol nenek disajikan mirip sup tetapi dengan kuah berwarna kehitaman. Rasanya agak gurih dengan irisan cabai merah yang besar-besar.
Lain lagi ketika saya berkunjung ke Bogor, tepatnya ke resto Imah Hejo milik vokalis Ungu, Pasha. Disana makanan ini disebut sebagai tutut monyong. Keongnya sendiri berwarna hijau bulat, bukan berbentuk luncip panjang seperti di RM Handayani. Disajikan mirip sup namun dengan kuah berwarna kekuningan yang gurih pedas karena diberi irisan cabe hijau besar.
Bagi yang belum pernah menyantapnya bisa-bisa kebingungan, gimana nih cara makannya? hehe... Nah, disinilah keunikan dan persamaan dari makanan berbahan dasar keong ini. Ya, persamaannya cuma satu, yaitu mulut harus dimonyongkan. Loh kok? Mulut yang dimonyongkan tersebut untuk menyedot keong agar daging menyembul keluar dari cangkangnya. Slurppp... hmm rasanya gurih dan enak meskipun tidak mengenyangkan. Makanya makanan ini sering disajikan sebagai menu pembuka.
Jika cara pertama tidak mempan, patahkan dulu sedikit ujung keong baru dihisap dan daging akan dengan mudah dimakan. Belum mempan juga? Tenang, masih ada cara terakhir yaitu dengan tusuk gigi untuk mencongkel dagingnya keluar hehe... Meskipun sukses, namun cara terakhir ini tidak cukup seru untuk menyantap kol nenek.
Nah, jika Anda menemukan makanan ini di buku menu jangan dihindari. Sesekali cobalah gurihnya si kol nenek ini! ( dev / Odi )
Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detikfood@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detikfood-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Kirim e-mail kosong ke detikfood-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Redaksi: redaksi@detikfood.com
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526




